Tiga Pendekar Bahas Perbatasan


Acara ini dibuka Rektor Unmul yang diwakili oleh Ketua Sistem Pengendali Internal (SPI) Prof.Dr.H.Rahmat Soeoed,MA. Rachmat Soeoed  mengatakan, pada hari ini kita akan menimba ilmu melalui seminar ini. "Banyak cerita mengenai perbatasan, mudah-mudahan cerita tersebut akan selesai dalam seminar ini,"harapnya.

Pembicara dari seminar internasional yaitu Panglima Daerah (Pangdam) VI Mulawarman Mayjen TNI Dicky Wainal Usman, Pembantu Rektor (PR) II Unmul Prof.Dr. H. Masjaya, M.Si., dan pakar perbatasan dari Universitas Kebangsaan Malaysia Prof. Dr. Ravi Chandran Moorthy.

"Persoalan wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa menjadi isu yang sangat sensitif dikalangan eksekutif, legislatif, aparatur pertahanan dan masyarakat umum. Kita harus menjaga wilayah perbatasan yang tangguh melalui Bhineka Tunggal Ika,"tutur Dicky Wainal Usman.

Membangun wilayah perbatasan kata Dicky, tidak serta merta secara instant dan sektoral harus melibatkan segenap komponen bangsa termasuk peran penting generasi muda didalamnya untuk melanjutkan proses estafet pembangunan, maka untuk mencapai strategi penyiapan perbatasan diperlukan suatu kepemimpinan yang tangguh.

Sementara PR II Unmul Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si memaparkan tuntutan masyarakat perbatasan agar mampu menjadi beranda depan NKRI belum mampu di realisasikan pemerintah sehingga sejajar dengan negara tetangga.

Lebih Lanjut Prof. Masjaya mengatakan, guna mewujudkan wilayah perbatasan sebagai kesatuan teritorial, maka penekanan pemerintah pada kedaulatan negara diselenggarakan melalui pendekatan keamanan yang masih sangat tradisional.

"Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan dan integritas teritorial suatu negara, terutama perannya dalam menentukan batas-batas kedaulatan, pemanfaatan sumber daya, keamanan dan integritas teritorial,"ujar Prof. Dr. Ravi Chandran Moorthy dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Seminar internasional ini dihadiri dosen-dosen dan ratusan mahasiswa Unmul.