Taiwan, Tiger Asia yang Terperangkap Jaring Tiongkok


Kunjungan yang dimulai dengan pertemuan di Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta ini bertujuan untuk lebih memahami hubungan ekonomi, sosial, pendidikan, research dan budaya antara Indonesia dengan Taiwan dan antara Asean dengan Taiwan, beserta dengan peluang dan tantangannya. Untuk mencapai tujuan tersebut kunjungan ke Taipei diformat dengan berbagai pertemuan, seminar dan dialog dengan instansi pemerintah, LSM dan lembaga pengkajian serta universitas-universitas di Taipei,  total general selama 4 hari kunjungan terdapat 4 kali seminar ditempat yang berbeda dan 6 dialog diberbagai institusi pemerintah dan think tank Taiwan, seperti Kementerian Luar Negeri Taiwan, Kementerian Perdagangan Taiwan, Kementerian Urusan China Daratan Taiwan, Taiwan Foundation for Democracy, Taiwan Institute for Economic Research, Taiwan International Development, Tamkang University Taipei, dan Foreign Association of Taiwan. Kunjungan untuk meperdalam pemahaman terhadap sejarah dan berdirinya negara Taiwan juga dilakukan ke beberapa museum Taipei, seperti Chiang Kai Sek Memorial Park, National Museum of Taiwan, Sun Yat Sen Memorial Park, dan Gedung Tertinggi ke dua di dunia yaitu Taipei 101.

Kepada Humas Unmul, penulis memberikan Intisari dari  laporan  Comparative Study Pusat Studi Asean UNMUL ke Taiwan dari berbagai hasil seminar, dialog, kunjungan lapangan sebagaimana disebutkan diatas, serta dilengkapi dengan referensi yang penulis miliki selama berada di Taipei.

Dari semua proses dialog dan seminar maupun sejarah Taiwan, penulis berkesimpulan bahwa situasi saat ini sangat tidak mudah bagi Taiwan terutama dihadapkan pada masa depan dengan China Tiongkok oleh karena itu untuk menggambarkan kondisi tersebut penulis beri judul, TAIWAN, HARIMAU ASIA TERPERANGKAP OLEH TIONGKOK.

 

Taiwan, siapa mereka?

Taiwan adalah sebuah negara melingkupi sebuah pulau yang terletak dilautan Pacifik (Laut China Selatan), Portugis menyebutnya dengan pulau Formosa yang artinya pulau yang indah, terletak di Utara Philippina atau Selatan Jepang dan di Barat China Daratan(Tiongkok), dibatasi oleh selat Taiwan dengan ibukota negara di Taipei.

Ditinjau dari segi iklim, Taiwan mirip dengan Indonesia beriklim tropis hingga sub-tropis sehingga menjadikan Taiwan sebagai salah satu pusat kekayaan biodiversitas di Asia dengan topography yang bervariasi dataran sampai pegunungan, dengan kelembaban yang cukup tinggi, menjadikan hutan dan daratan Taiwan kaya akan jenis tumbuhan dan binatang, terlihat dari 120 spesies jenis mamalia, 670 spesies burung, 141 reptil, 400 spesies kupu-kupu dan lebih dari 3.100 spesies ikan, dan lebih dari 4.596 spesies tumbuhan berbunga.Salah satu ikan yang sangat terkenal adalah ikan salmon formosa.

Sejarah Berdirinya The ROC atau Taiwan

Pemerintah Republic of China (ROC) mulai melaksanakan pemerintahan atas Taiwan pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah diakhir perang dunia ke II. Pemerintah the ROC pindah ke Taiwan pada tahun 1949 setelah kalah dalam perang sipil China. Pemimpin ROC daratan kalah dalam perang sipil China.

Sejak saat tersebut the ROC melanjutkan pemerintahannya ke pulau utama Taiwan dan sejumlah pulau kecil lainnya dan meninggalkan China daratan. Pihak berwenang di Beijing tidak pernah menjalankan kedaulatannya atas Taiwan atau pulau-pulau lainnya yang dikuasai pemerintah the ROC di Taipei.Sejak tahun 1987 Taiwan resmi menjadi sebuah negara demokrasi dengan pencabutan undang-undang darurat militer yang berlaku sejak tahun 1945. Saat ini Taiwan menjadi sebuah negara yang demokratis dan memelopori berbagai kegiatan demokrasi diberbagai belahan dunia.

Tahun 1996 untuk pertama kalinya Taiwan menyelenggarakan pemilihan presiden secara demokratis. Tahun 2002 menjadi anggota WTO(organisasi perdagangan dunia), hingga tahun 2013 Taiwan telah menandatangi berbagai perjanjian bilateral ekonomi termasuk kesepakatan Kerangka Kerjasama Ekonomi dengan Tiongkok dan normalisasi hubungan ekonomi dan perdagangan lintas Lintas Selat Taiwan.

Taiwan telah menandatangai perjanjian kerjasama atau kemitraan ekonomi dengan Singapura dan New Zeland, dan memiliki ratusan perwakilan perdagangan diberbagai negara didunia, termasuk Indonesia.Sejak tahun 2008, Taiwan dipimpin oleh Presiden Ma Ying-jeou dari partai Kuomintang yang lebih mengedepankan hubungan baik dengan Tiongkok, dimana persoalan kemerdekaan atau unifikasi tidak menjadi egenda politik utama pemerintahan Ma Ying jeou, hal ini terlihat dari berbagai kebijakan ekonominya yang lebih mengutamakan status quo dengan Tiongkok.

Walaupun the ROC atau Taiwan hanya merupakan sebuah negara kecil (dilihat dari luas wilayah), namun statistik ekonomi dan perdagangan serta produk teknologi negara ini membuat dunia banyak tergantung ke pada Taiwan.Statistik ekonomi Taiwan memang fantastis, merupakan negara di Asia dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stabil sejak 3 dekade terakhir, perdagangan Taiwan membukukan total nilai sebesar 575 milliar dollar ditahun 2013, lebih dua kali lipat dari Indonesia.

Statistik ekspor Taiwan ke Indonesia ditahun 2013 mencapai US $.15 milliar dollar, dengan produk utama mesin, alat2 listrik dan technology tinggi, sedangkan import Taiwan dari Indonesia sebesar US$.7,15 milliar.  Indonesia mengalami defisit perdagangan yang sangat besar dengan Taiwan mendekati US$. 7,85 milliar dollar ditahun 2013.Eksport utama Indonesia ke Taiwan adalah kekayaan alam seperti minyak dan bahan tambang lainnya.

Sampai tahun 2013 total investasi Taiwan di Indonesia mencapai US$ 15,36 milliar sedangkan investasi Indonesia di Taiwan “hanya” US $. 113, juta dollar. Jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya maka Indonesia masih kalah dari Vietnam sebagai no 1 tujuan investasi Taiwan yang mencapai total US$.27.25 milliar (data per 2013). Namun secara keseluruhan Tiongkok adalah tujuan utama investasi Taiwan yang mencapai 20% dari total investasi Taiwan diluar negeri.

Dengan melihat statistik ekonomi dan perdagangan diatas dapat disimpulkan bahwa banyak hal yang dapat dipelajari oleh Indonesia dari Taiwan, bagaimana sebuah negara yang “kecil” tetapi dapat menjadi raksasa ekonomi, apalagi tidak ditopang oleh kekayaan sumber daya alam seperti Indonesia. Salah satu sektor yang sangat perlu dipelajari dari Taiwan adalah bagaimana negara tersebut dapat membangun usaha kecil dan menengah yang menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

Dengan berbagai data dan argumentasi diatas dapat disimpulkan bahwa Taiwan merupakan sebuah negara yang sangat penting bagi Indonesia dan sebaliknya Indonesia juga sangat penting dimata Taiwan terutama dalam hubungan ekonomi, namun bagaimana hubungan kedua negara ini dapat ditingkatkan dan kendala apa yang akan dihadapi akan saya jelaskan pada bagian berikut ini.

 

Taiwan: Kami sangat memerlukan dukungan Indonesia.

Sejak berkembangnya pengaruh Tiongkok dalam perekonomian global, ternyata juga diikuti semakin kuatnya pengaruh politik global dari negara tersebut, dan memberi implikasi yang semakin serius terhadap Taiwan.

Bagi Taiwan untuk terlibat dalam pergaulan internasional yang setara dan partisipatif sangat mendesak, kebosanan terhadap politik “bawah tanah” terhada China Daratan atau Tiongkok sebagaimana yang terjadi selama ini sangat ingin diakhiri dengan pengakuan dunia atas Taiwan sebagai sebuah negara berdaulat. Disinilah letak persoalan bagaimana Pemerintah Indonesia merespon dan mendukung kemerdekaan taiwan disatu sisi, namun juga tetap berhubungan baik dengan Pemerintahan Beijing, tetapi apakah ini mungkin dengan perkembangan hubungan bilateral Indonesia dengan Tiongkok yang semakin signifikan?, apalagi politik luar negeri Indonesia bebas aktif namun menganut prinsip tidak mencampuri urusan negara lain, ataukah hal ini bisa dikompromikan dengan Tiongkok?.

Hampir semua menyadari bahwa dengan status Tiongkok sebagai salah satu pemilik hak veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa akan membuat pengakuan terhadap Taiwan akan memperoleh reaksi keras dari Tiongkok. Namun demikian tentu sangat tetap tergantung pada bagaimana Pemerintah Indonesia melihat keuntungan memiliki hubungan setara dengan Taiwan sebagai sebuah negara, tanpa mengabaikan dampak negatif yang juga muncul.

Selalu ada plus minus dari sebuah kebijakan politik, namun bagaimana nilai plus tersebut dapat membantu rakyat Indonesia meningkatkan kesejahteraan melalui pembinaan hubungan diplomatik dengan Taiwan adalah sebuah pertanyaan lain yang harus dijawab. Atau mungkin juga hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara dapat dilakukan secara maksimal tanpa harus mempersoalkan status kemerdekaan Taiwan, barangkali pilihan lain yang juga perlu mendapat pengkajian.

Tetapi sikap tidak mengakui kedaulatan suatu negara namun aktif mengeksplorasi manfaat ekonomi dengan negara tersebut juga bukanlah sikap sebuah negara besar seperti Indonesia, oleh karena itu Indonesia perlu memiliki posisi yang jelas dan tegas, bahwa dengan pengakuan atas kedaulatan Taiwan tidak dimaksudkan untuk menurunkan level hubungan dengan Tiongkok, justru akan semakin memperbesar tingkat hubungan, karena telah menghilangkan salah satu duri dalam hubungan kedua negara. Namun pilihan diatas belum akan diambil oleh pemerintah Indonesia dengan melihat pengaruh Tiongkok dan sementara ini yang terbaik adalah melanjutkan hubungan perdagangan dan ekonomi serta pendidikan dan budaya tanpa harus mencampuri urusan dalam negeri pemerintahan Beijing, atas klaimnya terhadap Taiwan.

 

Bernaulus Saragih, M.Sc, PhD.

Penulis adalah staff pengajar Fakultas Kehutanan UNMUL dengan Doktor dibidang Ekonomi Lingkungan dari Universitas Leiden Belanda, serta Master of Science dari Universitas Gottingen Jerman, aktif sebagai kolumnis di Tribun Kaltim dan Kaltim Post, serta menjadi nara sumber diberbagai forum nasional dan internasional dibidang Natural Resource and Sustainable Development,  banyak terlibat dalam issu-issu global dan nasional seperti perimbangan keuangan dari SDA, Energi dan Perubahan Iklim. Saat ini sebagai Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Sekretaris Eksekutif Pusat Study Asean di Universitas Mulawarman.

(Tulisan lengkap tentang Comparative Study Pusat Studi Asean UNMUL bisa dibaca pada Terbitan Buletin Integritas Unmul Edisi Mendatang)