Sulawesi Gempa, Patutkah Kalimantan Waspada?


Muhammad Dahlan Balfas

Dosen Program Studi S1 Teknik Geologi

Fakultas Teknik - Universitas Mulawarman

October 2, 2018

 

Sulawesi Gempa, Patutkah Kalimantan Waspada?

We learn geology the morning after the earthquake

(Ralph Waldo Emerson dalam Stephen Marshak, 2013)

 

Gempa bumi dan tsunami Palu sekali lagi sontak membuat kita terperangah. Sebelumnya, dalam rentang waktu yang sangat pendek, Indonesia belum pulih dari gempa bumi Lombok. Pengetahuan umum bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rentan terhadap bencana geologi, ternyata belum cukup untuk membuat kita waspada. Gempa bumi dan tsunami Aceh yang menelan ratusan ribu korban jiwa ternyata belum bisa memaksa kita untuk merasa perlu mengantisipasi terulangnya bencana-bencana geologi. Upaya-upaya yang dilakukan selama ini seolah hanya menjadi domain lembaga-lembaga geologi dan pemerintah, sementara masyarakat “gagal paham” dan cenderung tidak peduli.

Dalam konteks Kalimantan, jika dilakukan survei dengan satu pertanyaan sederhana “apakah Kalimantan aman terhadap gempa bumi?”, maka rasanya sebagian besar masyarakat akan menjawab “aman”. Tentu saja persepsi tersebut tidak sepenuhnya keliru, karena bahkan Peta Seismotektonik Indonesia menunjukkan bahwa koefisien gempa di Kalimantan relatif rendah. Namun demikian, data kegempaan mencatat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, setidaknya ada 6 (enam) fenomena gempa bumi yang terjadi di wilayah Kalimantan Timur dan (khususnya) Utara, sehingga topik tersebut tetap relevan untuk dibahas dan didiskusikan.

Secara umum, kondisi geologi Kalimantan sangat erat hubungannya dengan kondisi geologi Sulawesi. Jika diibaratkan Sulawesi adalah seorang petinju, maka Kalimantan adalah tali ring tempat terhempas dan terpantulnya sang petinju setiap kali terpukul atau terdesak.

 

Hubungan Jalur Sesar Kalimantan dan Sulawesi

Gempa bumi selalu terjadi disepanjang suatu jalur sesar (patahan). Jalur sesar mayor sangat banyak ditemukan di Pulau Sulawesi yang terkenal memiliki tatanan geologi yang sangat kompleks. Dua diantara jalur sesar Sulawesi yang berhubungan dengan Kalimantan adalah Jalur Sesar Palu-Koro dan Jalur Sesar Pastenoster. Jalur sesar Palu-Koro berarah baratlaut-tenggara dengan pergerakan mengiri (sinistral), memotong dari bagian tengah Sulawesi melalui tepat Kota Palu dan menerus melalui beberapa jalur sesar di Kalimantan bagian utara, diantaranya adalah jalur sesar Sangkulirang dan jalur sesar Maratua. Sedangkan jalur sesar Pastenoster juga cenderung berarah baratlaut-tenggara dengan pergerakan mengiri, memotong dari bagian selatan Sulawesi dan menerus disepanjang jalur Paser-Long Ikis hingga diperkirakan sampai ke Kalimantan Barat. Indikasi kedua jalur sesar tersebut di Kalimantan dapat terlihat dari peta bathymetri Selat Makassar, fisiografi Kalimantan, munculnya beberapa sumber mata air panas yang berjajar disepanjang jalur kedua sesar tersebut, dan berbagai ciri-ciri jalur sesar lainnya. 

 Peta Bathymetri dan fisiografi Selat Makassar (diadaptasi dari Katili, 1978)

 

Keunikan Gempa Bumi Palu

Gempa bumi Palu terjadi pada jalur sesar Palu-Koro yang selama ini diasumsikan adalah sesar geser (strike slip fault) dengan arah pergerakan mendatar (horizontal). Kerusakan yang yang ditimbulkan oleh suatu sesar geser biasanya disebabkan oleh getaran gempa yang menimbulkan goncangan, pergeseran (displacement), hingga gerakantanah. Hal ini menimbulkan asumsi berikutnya bahwa sesar Palu-Koro relatif aman terhadap potensi tsunami, karena tsunami biasanya berasosiasi dengan sesar turun (normal fault) atau sesar naik (reverse fault) yang arah pergerakannya vertikal. Gempa bumi Palu yang diikuti oleh bencana tsunami menunjukkan bahwa kedua asumsi tersebut keliru. Disamping itu, dokumentasi lapangan menunjukkan bahwa pada beberapa zona, badan jalan terangkat hingga lebih dari sepuluh meter yang juga menunjukkan bahwa disamping pergerakan mendatar, maka Gempa bumi Palu juga dipicu oleh sesar yang memiliki pergerakan vertikal. Dengan demikian Sesar Palu-Koro sebenarnya adalah sesar miring (oblique slip fault) yang memiliki arah pergerakan mendatar dan vertikal. Sesar-sesar di Kalimantan bagian utara yang merupakan kemenerusan dari jalur sesar Palu-Koro, seperti sesar Sangkulirang, sesar Mangkalihat, sesar Maratua dan sesar Sempurna akan memiliki pola pergerakan yang sama, sehingga jika terjadi gempa pada jalur tersebut, maka disamping potensi kerusakan akibat goncangan, pergeseran (displacement), dan gerakantanah, juga terdapat potensi tsunami.

Fenomena lain yang mengemuka dari gempa bumi Palu adalah terjadinya likuifaksi (liquefaction) dalam skala besar. Likuifaksi sebenarnya bukanlah fenomena yang asing di Indonesia. Bencana lumpur Lapindo di Jawa Timur memiliki kemiripan dengan fenomena ini, dimana batuan yang tidak terbentuk dengan sempurna membentuk batuan lunak (soft rock) terpendam di bawah lapisan batuan keras (hard rock). Bedanya adalah pada kedalaman, dimana batuan lunak pada lumpur lapindo terletak pada kedalaman yang besar sehingga membentuk lumpur bertekanan tinggi. Sedangkan pada likuifaksi, batuan lunak terletak pada kedalaman yang relatif dangkal, sehingga getaran gempa bisa menyebabkan batuan lunak tersebut bergerak ke atas dan mengalir. Fenomena batuan lunak juga relatif umum ditemukan Kalimantan Timur, seperti pada beberapa titik munculnya mud vocano kecil di daerah Loa Janan, Batu Putih, dan Balikpapan, atau bahkan jika kita mundur sedikit jauh ke belakang akan teringat fenomena kegagalan struktur yang berulang pada “jembatan stress” di muara Karang Asem. Dibandingkan dengan Palu dan sekitarnya, maka potensi terjadinya likuifaksi di Kalimantan kemungkinan lebih besar karena cekungan sedimen di Kalimantan Timur dan Utara jauh lebih besar. Hal ini perlu penelitian yang mendalam.

 

Potensi Bencana Geologi Lain di Kalimantan Timur dan Utara

Bencana geologi lain yang biasanya juga berhubungan secara tidak langsung dengan aktivitas tektonik adalah gunungapi. Kalimantan Timur dan Utara selama ini dianggap sebagai daerah yang tidak memiliki potensi gunungapi. Padahal data geologi regional membantah hal tersebut. Pada Peta Geologi Lembar Muara Ancalong terlihat jelas adanya dua kerucut gunungapi yang tidak aktif saat ini. Kerucut tersebut terletak pada bagian barat laut Muara Ancalong. Dalam hal ini kita perlu mengingat bagaimana Gunungapi Sinabung di Sumatera juga sekian ratus tahun tidak aktif, kemudian terbangun dan sulit tidur kembali.

 

Penutup

Tulisan ini tentu saja tidak bertujuan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai sumbangan pemikiran yang diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan. Misalnya pada pengembangan zona ekonomi khusus di Maloy yang semestinya telah melalui studi kelayakan yang cukup detail. Karena daerah tersebut terletak pada jalur sesar Sangkulirang, maka mudah-mudahan aspek geologi sudah cukup mendapat porsi. Perlu diingatkan bahwa jalur sesar bukanlah suatu garis, tapi suatu zona yang bisa mencapai radius puluhan kilometer, tergantung pada skala zona sesarnya. Begitu juga di daerah lain seperti di Kabupaten Paser hingga Kabupaten Paser Penajam, kajian-kajian geologi perlu dilakukan secara mendalam sebagai langkah antisipasi zona-zona lemah. Semoga bermanfaat.