Pelatihan Applied Approach Tingkatkan Kemampuan Dosen


Bertujuan meningkatkan kompetensi dan mengembangkan kemampuan instruksional  bagi para dosen, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M), Universitas Mulawarman (UNMUL) menggelar Pelatihan Applied Approach (AA) bagi para dosen Selasa, (09/07) hingga Kamis, (11/07) di Hotel Grand Victoria, Kota Samarinda.

Pelatihan AA merupakan lanjutan dari Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) yang sebelumnya sudah dilaksanakan LP3M. Kegiatan ini sebagai wujud peningkatan kompetensi profesional dosen dalam bidangnya hal ini ditegaskan Ketua LP3M UNMUL, Prof. Dr. Ir. Agus Sulistyo Budi sebelum membuka pelatihan secara resmi.

“Setelah kegiatan ini kita semua berharap bahwa kemampuan masing – masing dapat meningkat. Kita juga harus melihat capaian pembelajaran apa yang sudah dicapai. Kami berharap kehadiran peserta dapat memberikan arti yang sangat kuat untuk Universitas. Sehingga mempermudah mencapai tujuan universitas yang tertuang dalam visi dan misi yang sudah ditentukan,” katanya.

Dalam sambutannya diuraikan, tantangan untuk UNMUL ke depan adalah menggapai predikat World Class University yang salah satu indikatornya adalah persaingan kualitas pendidikan dengan negara – negara lain di dunia.

“Inilah yang akan menjadi tantangan untuk UNMUL agar selalu maju ke depannya tentunya dengan kesadaran para civitas akademika yang memiliki kecerdasan intelektual, karakter dan moral yang baik serta dapat mencapai apa yang diharapkan bersama,” jelasnya didampingi Kepala Pusat Pelatihan/Pengembangan Pendidikan LP3M UNMUL, Dr. Sudarman., M.Pd.

Sekretaris LP3M UNMUL, Dr. Hamdi Mayulu, S.Pt., M.Si  yang didaulat menjadi pemateri dalam pelatihan ini menyampaikan bahwa kualitas sebuah Perguruan Tinggi, diukur oleh kualitas output dari Perguruan Tinggi tersebut.

Dalam paparan materi yang bejudul  Membangun Perguruan Tinggi Bermutu, Asesor Nasional tersebut mengungkapkan universitas adalah kolektivitas intelektual, dan bukan hanya kumpulan layanan individual yang merangsang, yang disediakan oleh universitas bukan konstruksi hukum, dan bukan epiphenomenon.

“Ini adalah pola umum dari sikap, dan kegiatan yang membentuk pribadi masing – masing anggota universitas. Jika pola ini hilang, memberikan efek melemahkan hubungan dosen dan mahasiswa. Ini harusnya pola yang didukung oleh masyarakat akademik,” harapnya. (hms/frn)