Meraba Perbatasan Indonesia-Malaysia


Ketika perkuliahan telah berakhir mereka yang biasanya hanya pergi untuk pulang kampung dan mempunyai pikiran hanya liburan dan pilihan mereka Jakarta, Bali, dan Amerika itu juga hanya rencana tanpa hasil. Dilihat dari aktifitasnya setiap hari yang lebih menyedihkan adalah setiap harinya berangkat dari jalan pramuka ke Unmul, pramuka-Unmul, pulang dan pergi hanya ke pramuka dan Unmul itu agenda mereka, apabila dipikir kapan majunya hanya impian tinggi tanpa aksi yang memang menggugah hati kata salah satu dari mereka.

Studi pembangunan wilayah perbatasan merupakan salah satu mata kuliah pilihan, dari sini mereka mempunyai imajinasi yang tinggi untuk pembangunan wilayah perbatasan yaitu daerah pulau sebatik.

Pulau Sebatik adalah pulau terluar yang ada dipeta Kalimantan Utara yang secara langsung berbatasan darat dan laut dengan Tawau - Malaysia. Pulau Sebatik memiliki potensi sumber daya alam yang dapat menguntungkan Indonesia, seperti perkebunan kakao, perikanan dan rumput laut masih ada lagi berupa tempat dimana bisa dijadikan perlombaan renang internasional yaitu di karang unara.

Dari beberapa banyak Universitas yang ada di Indonesia, di ketahui Unhas dan Unmul yang menghampiri pulau Sebatik ini. Keberhasilan ini merupakan suatu impian yang telah di impikan sebelumnya oleh tim delegasi.

Mereka adalah mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) yang di antaranya ada seorang yang pernah kuliah di Australia.

Sebelum keberangkatan menuju ke daerah perbatasan sebatik, tim delegasi mengalami beberapa hambatan yang tidak  mudah untuk di hadapi, seperti keterlambatan penyelesaian proposal untuk pengesahan dan perizinan dari kampus, terjadi suatu komunikasi antar panitia yang bingung akan tugasnya, proposal di dalam masa waktu tenggang dan tidak lepas dari pengeluaran dana.

Dari semua hambatan dan rintangan itu, tim delegasi bisa melewatinya dengan rasa bangga yang telah dimiliki anggota panitia setelah pulang dari daerah perbatasan karena tidak hanya ke perbatasan tetapi juga tim delegasi bisa bertemu dengan Bapak Konsulat RI di Tawau Malaysia.

Di saat mahasiswa lain sibuk untuk bepergian ke Jakarta, menumbuhkan rasa untuk perubahan rute perjalanan, maka tim delegasi telah memutuskan untuk meraba wilayah perbatasan dan langsung pergi ke luar negeri yaitu Malaysia untuk bertemu Bapak Konsul RI di Tawau-Malaysia.

Saat pertama kali datang di pulau Sebatik, tim delegasi merasakan suatu keharmonisan dan keterbukaan masyarakat disana terhadap pendatang baru. Tim delegasi di sambut oleh mr. argo yang merupakan seorang guide. Tim di antar ke hotel yang bernama hotel Queen Sebatik.

Hari selanjutnya tim disambut pihak pemerintah kecamatan untuk mengikuti pengukuran patok-patok perbatasan darat yang di sertai oleh TNI angkatan darat RI. Kurang lebih 10 km tim berjalan menelusuri patok perbatasan darat yang di mulai dari patok 7 sampai patok 5. Tim merasa kelelahan tapi dengan semangat yang mereka punya akhirnya tim mampu menjalani perjalanan tersebut.

Setelah selesai pengukuran patok, tim disambut keluarga kecamatan untuk makan bersama antara tim, TNI AD, dan warga setempat. Pengukuran yang dilakukan itu bermaksud untuk melakukan penghijaun untuk mengetahui dimana letak wilayah Indonesia dan Malaysia. Warga yang bermaksud untuk menanam pohon-pohon yang menghasilkan manfaat seperti pisang, pepaya, dan kakao.

Keesokan harinya tim pergi menghampiri suatu patok yang telah terkenal sebelumnya, katanya patok tersebut telah di datangi oleh pejabat-pejabat yang tinggi, seperti DPR RI, bahkan Presiden tapi masih belum ada perubahan.

Patok ini adalah patok tiga, ukurannya kecil hampir tidak terlihat dan yang lebih menyentuh hati adalah perbatasan patok ini telah memisahkan rumah seorang warga yang bisa disebut namanya bapak Parangai, ruang tamu milik Indonesia dan dapur milik Malaysia, setiap hari beliau berangkat keluar negeri tanpa passport,(ucap tim).

Dari sini tim secara jelas dapat menyaksikan fenomena ini dan langsung ada di tempat yang banyak orang perbincangkan dan masih belum ada perubahan.

Setelah kegiatan meraba perbatasan, tim mempunyai suatu agenda yang begitu sangat membanggakan untuk membawa nama mahasiswa Unmul serta bisa menjadikan suatu bantuan secara langsung untuk merubah keadaan yang ada, seperti mengadakan bakti sosial.

Pihak pemerintahan kecamatan Sebatik tengah termasuk Bapak Camat yang bernama bapak Harman membantu dalam pelaksanaan bakti sosial ini yaitu mengumpulkan anak tidak mampu dari keluarga TKI untuk diberikan bantuan yang berupa materi, buku dan baju oleh tim delegasi yang telah memiliki rencana sebelum berangkat.

Isak tangis menyelimuti keadaan disana, air mata mengaliri pipi para tim delegasi yang telah melihat secara langsung keadaan anak-anak disana ketika memberikan suatu bingkisan tersebut.

Tidak hanya terlepas dari kegiatan bakti sosial saja para tim bisa membantu, tim delegasi tetap menjalin hubungan layaknya adik asuh, untuk masa depan mereka dalam keperluan pendidikan. Dengan saling menukar nomor handphone tim saling berkomunikasi agar tidak terputus sampai disana, sesudah dari sebatik tim akan selalu aktif menanyakan keadaan adik asuhnya tersebut demi kemajuan kehidupan anak-anak perbatasan dalam mencapai cita-cita dan tim sebagai penghubung untuk kelanjutan pendidikan masuk perguruan tinggi yaitu Unmul.

Meraba perbatasan Indonesia dan Malaysia secara langsung membuat tim tersentuh untuk bergerak menciptakan perubahan kedepannya dengan memiliki master plan. Dari sini tim memiliki pengetahuan yang luar biasa.

Setelah berjuang untuk melihat perbatasan tim bersiap untuk pergi menemui Konsulat RI di Tawau Malaysia.

Dari sebatik tidak bisa untuk langsung menyebrang ke Tawau kecuali penduduk asli yang ingin memperjual belikan sembako karena peraturan yang telah di buat oleh pemerintah negara Malaysia jadi warga negara Indonesia harus mengikuti gaya dan peraturan yang telah di tetapkan oleh Malaysia.

Penyeberangan di lakukan dari Nunukan ke Tawau yang dapat di tempuh kurang lebih 1 jam, berbeda apabila dari sebatik ke Tawau bisa di tempuh 15 menit.

Sesampainya di Tawau, tim di sambut oleh pihak Konsulat RI, tanpa harus mengikuti antrian panjang untuk mendapatkan stempel passport. Tim di sambut dan menaiki mobil dari Konsulat RI seperti layaknya diplomat. Tim langsung bertemu Bapak Konsulat RI, yang bernama Bapak Soleh. Tim diajak untuk melihat sekeliling ruangan dan di beritahukan data penduduk Indonesia yang ada di Tawau Malaysia yang kurang lebih ada 2000 jiwa. Sekeliling ruangan terlihat bagus akan tetapi sebagai pemberitahuan rumah atau tempat yang dimiliki seorang Konsulat RI di Tawau Malaysia itu merupakan rumah yang masih belum tetap atau bisa di sebut kontak yang sewaktu-waktu bisa pindah lagi. Begitu mirisnya ini, akan tetapi charisma Indonesia tetap cemerlang di hadapan Malaysia.

Kedatangan tim delegasi ke Konsulat RI di Tawau-Malaysia merupakan yang pertama kalinya dan pertama kalinya juga bapak konsul mendengar Universitas Kalimantan Timur adalah Universitas Mulawarman, dan ini merupakan pengalaman yang berharga bagi tim delegasi karena perdana bagi mereka dan sambutan yang begitu luar biasa.

Setelah kunjungan selesai tim kembali ke Indonesia dan memetik suatu pengetahuan yang begitu berharga untuk kedepannya.