Mahasiswa HI Belajar Kedisiplinan Jepang Lewat Studi Lapangan ke Tokyo


Oleh. Enny Fathurachmi

Selasa (07/03) kemarin, 14 mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional  (HI) Universitas Mulawarman (Unmul) melakukan studi lapangan ke Jepang yang diberi tema Learning by Eksploring Tokyo Spring Culture selama enam hari hingga tanggal 14 Maret 2017.  Di lepas oleh Dekan Fisipol Unmul Dr. H. Muhamad Noor, beliau memberikan pesan agar studi lapangan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh delegasi untuk menggali pengalaman dan mengeksplorasi pengetahuan selama di Jepang.

Studi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa HI dengan didampingi oleh Enny Fathurachmi sebagai dosen pendamping bertujuan untuk merasakan atmosfir belajar secara langsung di negeri Sakura. Mengingat di Prodi HI Unmul juga menawarkan mata kuliah Politik dan Pemerintahan Jepang.

Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Waseda University, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, Gedung Parlemen Nasional Jepang dan beberapa destinasi wisata seperti Sensoji Temple, Tokyo Sky Tower, Shumida Park, dan beberapa tempat lainnya.  Kami cukup beruntung karena Waseda University bersedia menerima rombongan kami di hari pertama kedatangan kami. Kami disambut oleh pihak International Office dan acara diawali dengan penjelasan dari pihak Waseda University mengenai profil kampus mereka dan program-program yang ditawarkan. Dari penjelasan mereka diketahui bahwa mahasiwa dari Indonesia adalah mahasiswa dengan urutan kelima terbanyak yang bersekolah di Waseda University. Setelah diskusi kami diajak berkeliling kampus dengan melihat-lihat suasana universitas. Gaya bangunan di kampus Waseda dominan dengan gaya arsitektur Eropa. Hal ini dapat dipahami mengingat masa Meiji pemerintah Jepang banyak mengadopsi dan mengirimkan pelajar-pelajarnya untuk bersekolah di Eropa serta mengundang guru-guru dari Eropa untuk mengajar di Jepang.

Selain mengunjungi kampus kami juga di terima oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo pada hari kedua. Diterima langsung oleh KUIA/Plt Duta Besar RI untuk Jepang Bapak Ben Perkasa Drajat kami ditempatkan diruang rapat KBRI dan berdialog mengenai perkembangan Jepang saat ini serta hubungan Indonesia dengan Jepang. Pak Ben memberikan materi yang sangat berbobot hingga satu setengah jam mengenai perkembangan Jepang dengan terlebih dahulu melemparkan beberapa pertanyaan kepada delegasi.

Dari penjelasan tersebut kami mengetahui bahwa kondisi Jepang saat ini sedang dalam titik jenuh pertumbuhan ekonominya sehingga tren yang terjadi justru di jepang sedang terjadi deflasi dimana harga-harga di Jepang cenderung menurun. Salah satu langkah yang dibuat oleh pemerintahan Jepang lewat Perdana Menterinya saat Ini Shinzo Abe mengeluarkan kebijakan Abenomics. Acara kemudian ditutup dengan saling tukar cinderamata  antara pihak KBRI dengan Unmul.

Banyak pelajaran yang didapat dari perjalanan studi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Hubungan Internasional seperti mengenai budaya antri dan tepat waktu.  Selama perjalanan dari satu destinasi ke destinasi lain kami banyak menggunakan public transport seperti Metro. Kami benar-benar belajar bagaimana masyarakat Jepang begitu tertib dan teratur. Pada saat menunggu kereta terlihat mereka berbaris di line yang telah ada bahkan ketika kereta berhenti dan penuh tidak terlihat mereka menyerobot ataupun berdesakan ingin masuk duluan seperti pemandangan yang sering terlihat di Indonesia. Namun mereka menunggu terlebih dahulu penumpang yang ingin turun di stasiun tersebut setelah itu baru penumpang masuk dengan tertib kedalam kereta.

Pelajaran lain yang tak kalah berharga yang kami dapatkan adalah ditempat tinggal kami selama di Tokyo. Kami menyewa sebuah apartemen dan rombongan kami ditempatkan di lantai 4 dan 5. Kebetulan di lantai 3 dihuni oleh seorang wanita Jepang berusia sekitar 65 tahun yang hidup sendiri. Hampir setiap pagi sebelum kami memulai aktivitas kunjungan, wanita tersebut mendatangi lantai kami dan memperlihatkan cara membersihkan lantai dan juga memilah sampah. Ternyata di Jepang ada jadwal khusus yang diberikan oleh petugas pemungut sampah dalam mengambil sampah di rumah-rumah penduduk misalnya pada hari Senin sampah botol plastic, Selasa organic dan seterusnya. Kami yang tidak terbiasa dengan pola pemisahan sampah dibuat takjub dengan pola tersebut bahkan sepotong plastic kecil bekas mayones juga harus dipisahkan.  Tidak heran jika selama kami di Tokyo hampir tidak mendapati sampah berserakan disembarang tempat, semua tempat terlihat bersih dan teratur.

Kami juga mengunjungi beberapa destinasi wisata seperti Sensoji Temple dan juga Yoyogi park. Sayang waktu kedatangan kami belum merupakan masa puncak mekarnya bunga Sakura. Di Tokyo sendiri Sakura blooming pada akhir sampai awal April, namun kami cukup beruntung masih menemukan satu dua pohon Sakura yang telah berkembang di Yoyogi Park.

Hari terakhir kunjungan di Jepang kami mendatangi Gedung Parlemen nasional Jepang atau dikenal dengan National Diet Building. Pada hari itu 13 Maret 2017 terlihat polisi ada hampir disudut-sudut tempat di daerah Chiyoda. Ternyata dihari yang sama ketika kami mengunjungi Gedung Parlemen, sedang ada kunjungan Raja Salman dan juga melakukan kunjungan kenegaraannya setelah dari Indonesia. Situasi itu membuat kunjungan kami tidak maksimal karena ada penjagaan ketat di area gedung parlemen.

Dari studi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Hubungan Internasional Unmul di Jepang ada kebanggaan bahwa kami untuk turut berperan mengibarkan bendera Universitas Mulawarman dengan menjalin hubungan dengan beberapa institusi di Jepang dan yang paling penting pengalaman dan pembelajaran dengan merasakan secara langsung kehidupan sosial di Jepang menjadi sesuatu yang berharga karena pengalaman merasakan secara langsung itu tidak akan sama jika hanya melihat dari layar computer ataupun media lainnya.

Pelajaran-pelajaran yang kami dapat dari Jepang harapannya dapat diterapkan di Indonesia meskipun berawal dari hal-hal kecil seperti membudayakan antri, membuang sampah pada tempatnya dan memilahnya serta respect dengan lingkungan sekitar.

Untuk itu Prodi Hubungan Internasional Unmul akan tetap berkomitmen mendukung program-program universitas dalam menjalin kerjasama-kerjasama internasional dan juga membuka wawasan bagi mahasiswa. 

Tahun depan 2018 studi lapangan yang telah dirancang adalah ke Korea mengingat Korea menjadi salah satu negara yang cukup berhasil melakukan diplomasi public lewat budaya K-Pop.  Namun seperti halnya studi lapangan ke Jepang porsi edukasi dari perjalanan nanti lebih besar.