Lebih Dekat dengan Sejarah Mulawarman


Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sansekerta bila dilihat dari cara penulisannya. Abad ke 13 berdiri kerajaan Kukar di kutai lama. Dengan Raja pertama Adji Batara Agung Dewa Sakti.

Hal demikian disampaikan oleh Dr. H. HAMP Haryanto Bachroel, MM dari Kesultanan Kukar, pada talkshow kebudayaan bertema membedah Mulawarman, melalui ulasan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara dan budaya Erau, yang dipelopori Unit Kegiatan Mahasoisa (UKM) Musik dan Budaya Fakultas Teknik (FT) Unmul dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Kukar.

Sementara itu, menyinggung masalah pesta budaya Erau, salah satu festival tertua dan menarik dari Tenggarong, Kaltim ini, merupakan warisan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan telah berlangsung sejak abad ke-13. 

Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan. Erau adat di Keraton Kukar ada dua yakni Erau Batusamban dan Erau Tepong Tawar.

“Erau dimulai sejak abad ke 13 dan merupakan suatu proses integrasi yang dihadiri mulai dari para kepala wilayah. Selain itu, ada pula masyarakat biasa bersama pihak kesultanan, sampai juga sering diwarnai dengan kehadiran makhluk-makhluk tidak tampak,” katanya.

Dipaparkannya, selain menyaksikan seni dan budaya tradisi Keraton Kutai Kartanegara, pengunjung juga dapat melihat atau ikut serta dalam atraksi olah raga dan aneka lomba tradisional yang menarik. “Erau berlangsung selama tujuh hari tujuh malam yang merupakan pesta rakyat dan diakhiri dengan tradisi belimbur. Belimbur diawali saat Sultan memercikan air tanda dimulainya belimbur serta diikuti warga kota,” ucapnya.

Lebih jauh perayaan Erau yang akan berlangsung pada tanggal 15 sampai 22 Juni 2014 tersebut harapnya, bisa dikemas dengan baik agar bisa menjadi objek wisata. “Kita harapkan Erau bisa menjadi budaya yang luar biasa. Jadikanlah budaya sebagai jati diri bangsa serta dapat menumbuhkan ekonomi kerakyatan,” jelasnya.

Selain pihak kesultanan Kukar, dalam kesemapatan yang dibagi menjadi dua sesi dalam talkshow dan interaktif itu, Bupati Kukar, Rita Widyasari, S.Sos., MM didaulat pula menjadi keynote speaker di acara yang berlangsung di Gedung Pusat Penelitian Hutan Tropis (Pusrehut) Unmul ini.

Rendi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Unmul, menyampaikan, dilaksanakannya acara ini, merupakan bentuk aksi kepedulian mahasiswa pada aspek kebudayaan sebagai agen intelektual muda selain menggelar aksi lain yang biasanya lebih sering pada bidang politik serta berbagai masalah – masalah sosial di masyarakat.

“Kami ingin membuka wawasan rekan-rekan mahasiswa dengan kebudayaan yang ada disekitar kita terutama tentang sejarah Mulawarman itu sendiri yang menjadi nama universitas yang kita cintai ini. Terlebih, sebentar lagi akan dilaksanakan perayaan erau di kota tenggarong, Kukar,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Dekan FT Unmul, Dr. Ir. H. Dharma Widada., MT yang sebelumnya membuka acara secara resmi. (hms/frn)