Launching Lazismul dan Buka Puasa Bersama Civitas Akademika


Selasa, (13/06), atau 18 Ramadhan 1438 Hijrah, seluruh civitas akademika Universitas Mulawarman (Unmul) berkumpul di Lobby Lantai Dua Rektorat untuk melakukan buka puasa bersama jajaran pimpinan Kampus Gunung Kelua sebutan Unmul.  Di kesempatan yang sama, dilakukan pula launching Lembaga Amin Zakat, Infaq dan Shadaqah Unmul (Lazismul).

Ketua Lazismul, H. Nurdin, S.Hi., M.Ed, Ph.D saat melaporkan profil Lazismul menyatakan bahwa sebenarnya lembaga ini sudah ada sejak tahun 2011 lalu, namun dengan beberapa alasan akhirnya lembaga ini kembali dibentuk pada tanggal 21 Februari 2017, yang mana tugasnya adalah melanjutkan dari beberapa program kegiatan Baitul Maal wa Tamwil (BMT).

“Lazismul berasaskan pada kejujuran, independensi, profesionalisme dan keadilan. Alhamdulillah dari asas tersebut kita, sejak berdirinya BMT hingga sekarang bahwa zakat, infaq dan sadaqah sejak berdiri tahun 2011 hingga sekarang jumlah dana terkumpul sebanyak 784.864.670. Namun sejak tahun 2011 belum tersalurkan karena beberapa alasan administrasi,” tegasnya.

Menurutnya, potensi zakat sangat besar di Unmul, dengan adanya sosialisasi Lazismul ini bisa didapatkan manfaat dari zakat tersebut. Dari dana yang dikelola ini juga sebagian akan diperuntukan untuk renovasi Masjid Al-Fatihah Unmul. Dana yang ada di Lazismul juga diutarakannya, ke depan akan di kelola oleh sebuah koperasi syariah.

Senada, Rektor Unmul, Prof. Dr. H. Masjaya., M.Si menyebutkan, potensi zakat yang ada di universitas ini harus terus dikembangkan. Apalagi menurut Rektor, dari dana tersebut saat ini bisa dimanfaatkan untuk melalukan renovasi masjid.

Dalam tausiyah ramadhan, sebagai penceramah Ketua Satuan Pengendali Internal (SPI) Unmul, Prof. Dr. H. Rahmad Soe’oed., MA menceritakan tentang perjalanan dan pengorbanan para sahabat Nabi dalam berzakat dan menyisihkan hartanya untuk kepentingan umat, yang mana tujuannya adalah untuk mengembalikan semangat zakat, infaq maupun shadaqah.

“Kekuatan zakat harus diberengi dengan perubahan pola pikir dan kesadaran yang kuat. Mengapa kita masih merasa kesulitan dalam berinfaq atau bersadaqoh, jawabannya karena kita tidak merubah persepsi kita dalam kesadaran menyisihkan apa yang kita punya untuk orang lain,” pesannya. (hms/frn)