FIB Unmul Ajak Lestarikan Budaya Lokal Lewat Seminar Nasional


Dalam rangka menjaga pelestarian budaya lokal melalui bahasa, sastra, dan seni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman (Unmul) menyelenggarakan Seminar Nasional, Selasa (24/10). Acara yang terlaksana di Hotel Aston Samarinda ini menghadirkan para pakar dibidangnya. Diantaranya Dr. Muhammad Takari, M.Hum dari Universitas Sumatera Utara, Medan, Dr. Pujihato, M.Hum dan Dr. Wening Udasmoro, M.Hum dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

“Selamat datang kami ucapkan kepada para narasumber, pemakalah dan tamu undangan yang hadir hari ini dengan tujuan mulia. Menyampaikan ilmu atau berbagi ilmu demi perkembangan ilmu pengetahuan dan pelestariannya. Pelestarian budaya lokal pada khususnya dan pelestarian budaya nasional pada umumnya,” ucap Satyawati Surya, S.Pd., M.Pd selaku ketua panitia dalam sambutannya.

Ia mengatakan, melalui penelitian, penulisan artikel dan penyampaian opini ilmu, pengetahuan digali, dikembangkan, dibagikan dan dilestarikan. “Acara seminar nasional pertama ini bertujuan untuk mengembangan dan melestarikan dibidang bahasa, sastra dan seni. Harapan kami semoga semnas ini bermanfaat untuk kita semua, bagi masyaraka dan bagi negara,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Dekan FIB Unmul Dr. H. Mursalim, M.Hum berharap semnas ini dapat bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan khususnya di Kaltim dan Indonesia pada umumnya. UUD 1945 bab XIII tentang pendidikan dan kebudayaan pasal 32 menyatakan bahwa Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah-tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengemebangkan nilai-nilai budayanya.

“Mengacu pada UU tersebut, FIB menggagas kegiatan seminar kebudayaan ini yang nantinya akan dilanjutkan dengan workshop juga. Semoga budaya lokal yang kita angkat dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Wakil Rektor Bidang Umum, Sumber Daya Manusia dan Keuangan Unmul, Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si menyatakan perkembangan bahasa Indonesia dan sastra dari dulu semakin maju dan sudah masuk kancah globalisasi. “Harus terus kita perjuangkan. Tantangannya adalah mampukah kita menguatkan posisi kemajuan bahasa, sastra dan seni Indonesia untuk bangsa dan anak kita yang saat ini mungkin mudah terpengaruhi oleh bahasa lain,” katanya.

Sangat penting, lanjut Dr. Abdunnur, untuk mensosialisasika bahasa, sastra, dan seni Indonesia kepada para generasi penerus bangsa ini dimasa depan. “Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui seminar-seminar seperti halnya hari ini. Harapannya output dari pertemuan ini dapat terwujud dengan baik,” pungkasnya. (hms/rob)