Di Russia, Mahasiswi Unmul Ini Sampaikan Budaya Indonesia dan Kalimantan


Menghadiri bahkan memaparkan gagasan dihadapan tokoh dunia serta ratusan delegasi pemuda dan pelajar berprestasi di dunia, tentunya menjadi keinginan semua orang. Mahasiswi asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Mulawarman (Unmul) berkesempatan mewujudkan hal tersebut, menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan Internasional yakni World Festival of Youth and Students (WFYS) 2017 yang telah dilaksanakan pada 14-30 Oktober 2017 di Moscow, Sochi dan Krasnoyarks, Russia.

Adalah Dhysti Windyswara, mahasiswi Hubungan Internasional (HI) Angkatan 2014 kepada Humas Unmul menceritakan, WFYS merupakan ajang internasional bergengsi yang diselenggarakan oleh The World Federation of Democratic Youth (WFDY), sebuah organisasi pemuda Internasional di bawah Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) yang setiap empat tahun sekali melaksanakan di Negara – Negara berbeda.

Tahun 2017, Russia terpilih menjadi tuan rumah dalam acara WFYS yang diikuti oleh pemuda - pemudi dari 150 negara di dunia.  Acara ini dibuka langsung serta dihadiri oleh tokoh dunia seperti Malala, Boyan Slat, Anna kudryavtseva, Sergei Kirienko, bahkan President Russia, Vladimir Putin tampak dalam opening serta closing ceremony sekaligus memberikan kuliah umum kepada peserta terpilih.

“WFYS 2017 merupakan ajang solidaritas pemuda global terhadap perdamaian serta berfungsi sebagai platform untuk percakapan dan tindakan untuk membuat kelompok pemuda global lebih aktif dan produktif dalam persaingan global yang menekankan revitalisasi babak baru keterlibatan generasi yang dinamis berupa mahasiswa, pengusaha muda, aktivis, profesional, dan lain-lain yang terkait pada isu-isu yang berhubungan dengan  global,” bebernya dalam sebuah tulisan yang dikirim ke Humas Unmul.

Selain itu sambungnya, ajang ini juga sebagai kesempatan Indonesia dalam memperkenalkan budaya Indonesia terkhusus pulau Kalimantan, dimana dalam pertemuan itu setiap delegasi mempresentasikan budaya negara mereka masing-masing. Hal ini dilakukan guna memanfaatkan pengalaman dan keahlian peserta untuk menawarkan lokakarya menyoroti karya pemuda global untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan kolaborasi dalam konteks pemerintahan partisipatif.

“Disana kami diberikan space untuk booth Indonesia selama acara berlangsung, dan di booth tersebut kami mempromosikan budaya Indonesia serta sektor pariwisata dan lainnya, sehingga masyarakat Internasional memahami dan tertarik untuk mengunjungi Indonesia,” imbuh Dhysti.

Sedangkan dalam helatan ini terdapat empat bagian program utama yakni Scientific and Educational Program, Cultural Program, Sports Program, dan Social Project yang meliputi Youth Forum, Workshop, Plenary, Exhibition, serta Discussion Panel dimana berbagai macam isu yang didiskusikan mengenai masalah kebudayaan, pendidikan, teknologi, kepemimpinan, ekonomi serta politik.

“Peserta diberi kesempatan untuk presentasi di depan khalayak mengenai ide - ide dan juga proyek sosial dalam rangka mencapai Sustainable Development Goals,” tambahnya.

Satu hal yang membanggakan, dirinya juga terpilih menjadi salah satu dari 88 perwakilan anak muda yang mengikuti Regional Program yakni suatu program dari pemerintah Russia yang diselenggarakan di Krasnoyarks, Siberia.

Mahasiswi yang saat ini sedang menempuh pendidikan pada Semester VII dengan IPK terakhir 3.94 itu, menyampaikan harapan bahwa dengan keikutsertaanya dalam kegiatan World Festival of Youth and Students dapat menjadi suatu pembelajaran baru dalam memahami suatu permasalahan dari sudut yang berbeda untuk ditawarkan dalam mengatasi permasalahan bangsa di dunia.  

Sebagai salah satu Universitas terbesar dan terbaik di Kalimantan Timur, Unmul dianggapnya telah menjadi pionir dalam mencetak sumber daya yang memiliki integritas, kemampuan, dan kompetensi yang berkualitas nasional maupun internasional.

Forum berkelas nasional maupun internasional diakuinya tidak hanya memberikan banyak keuntungan bagi mahasiswa, namun juga bagi institusi dan negara Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung. “Mahasiswa Indonesia juga dapat mempopulerkan keberadaan institusi, budaya, dan terlebih negara Indonesia.

Hal ini merupakan sebuah kesempatan emas bagi Indonesia untuk mempublikasikan keanekaragaman budaya dan semua nilai positif bangsa yang kita miliki,” tutup wanita kelahiran Tarakan, Kalimantan Utara, 13 Agustus 1997 ini.

Selama menjadi mahasiswi Unmul, Dhysti Windyswara sudah berhasil membawa harum nama Universitas, khususnya Fisip di berbagai ajang bertaraf Nasional dan Internasional. Seperti menjadi delegasi Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia(PSNMHII) di tahun 2015. Representatif Philipine untuk International Makassar Model United Nation pada 5-7 Maret 2016, dan berhasil menjuarai serta menjadi satu-satunya mahasiswa Unmul yang berkunjung ke China dalam ajang Write to China yang diadakan oleh China Embassy of Indonesia & Foreign Policy Community Indonesia (FPCI).

Selanjutnya, pada November 2016 Dhysti berhasil membawa nama baik Indonesia dalam ajang konferensi bergengsi yang diadakan oleh World Bank, yakni World Bank Grup Youth Summit 2016 yang bertempat di Markas Bank Dunia, Washington DC, Amerika Serikat. 

Terbaru, kembali berhasil lolos dalam seleksi yang competitif di 19th World Festival of Youth and Students 2017, Russia. Sebagai satu-satunya delegasi Unmul dan Kalimantan dalam konferensi yang dihadiri oleh pemuda-pemudi berbakat dari seluruh dunia. (hms/frn)