Dari Sosial Media, Berkesempatan Pergi ke Jepang


Project “KAINKU” Rangkul Generasi Muda

Perkembangan Era digital khususnya penggunaan media sosial tampaknya dimanfaatkan betul mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul). Tidak hanya ingin menjadi pengguna pasif, Aldi Riandana mencoba membangun komunitas positif di lingkungan Kampus yang berlokasi di Gunung Kelua.

Starting LINE adalah sebuah program yang berhasil diikutnya bersama 59 mahasiswa terpilih dari berbagai Universitas di Indonesia. Sebelumnya lebih dari  2000 peserta yang berasal dari 412 kampus di Nusantara harus mengikuti proses seleksi. Berawal dari program tersebut, pria kelahiran Samarinda, 31 Maret 1994 berhasil menjadi juara satu dari enam orang juara utama atau Line Digital Champion serta berhak bertolak ke Jepang di tahun depan yang salah satu agenda utamanya adalah mengunjungi kantor pusat LINE di Negeri Sakura tersebut.

Starting LINE merupakan sebuah rangkaian program dari LINE Indonesia yang diharapkan menjadi garis awal bagi mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri dan komunitas dengan aplikasi LINE sebagai medianya. 

Puncak acara Starting LINE yaitu LINE CAMP pada 25 sampai 27 November 2017 lalu yang terlaksana di Swissbell-Residences Kalibata, Kota Jakarta. Kepada Humas Unmul, mahasiswa Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional itu bercerita, awalnya Starting LINE ini telah mengadakan seminar di lima kota besar yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Kota Samarinda. Sedangkan selama mengikuti LINE CAMP banyak ilmu baru yang didapat salah satunya peningkatan kemampuan dan kapasitas diri.

“Di seminar inilah pertama kali saya tahu tentang adanya kompetisi dan tertarik buat ikutan. Jadi dalam kompetisinya ada dua kategori kompetisi, Student Partner (SP) dan CommuLINEnity Manager (CM) saya ikutan di CM. Dua kompetisi ini punya misi yang berbeda dari LINE yang harus diselesaikan,” katanya di Surel yang dikirim.  

“Nah di CM, kami diharuskan membuat sebuah akun LINE yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Jadi LINE ingin melihat bagaimana peserta dapat memanfaatkan LINE dengan segala fiturnya tadi untuk menjangkau lebih banyak orang dan mengembangkan akunnya masing-masing dengan tidak melupakan prinsip dasar dari LINE yaitu needs, data, speed, detail, teamwork dan enjoy hingga akhirnya terpilihlah 30 SP dan 30 CM ke Jakarta untuk mengikuti Line Camp,” tambahnya.

Sebagai syarat utama mengikuti kompetisi, lanjut penghobi travelling ini, dirinya diwajibkan membuat akun LINE yang dinamainya “KAINKU”. Sebuah project yang mengangkat kekayaan kain-kain nusantara khususnya dari Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal ini dilakukannya mengingat banyaknya kain khas Kaltim yang belum banyak diketahui generasi muda mulai dari nama hingga makna dari barang tenunan untuk pakaian tersebut.

“Nah KAINKU ini memberikan informasi tentang batik atau tenun dari 10 Kabupaten/Kota di Kaltim melalui setiap postingannya. Mulai dari berbagi informasi mengenai daerah asal kain tersebut, makna dari motif yang ada di kain, bagaimana proses pembuatan hingga dimana kita bisa mendapatkan kainnya dari pengrajin. Sederhananya tujuan project ini sih supaya anak muda lebih aware sama apa yang mereka pakai, dan tidak sekedar memakai saja. Karena selalu ada cerita serta doa dari setiap helaian kain nusantara yang tercipta,” ulasnya.

Aldi berharap project KAINKU terus berkembang dan menjadi platform informasi yang besar dengan mengabarkan keindahan kisah, warna hingga motif kain-kain nusantara dari Kaltim. “Dan semoga setelah berhasil menjadi  juara satu dari enam juara utama atau Line Digital Champion ini bisa menjadi inspirasi banyak pihak untuk terus semangat menggapai mimpinya,” harapnya. (hms/frn)