Cara Unik PERSPEBSI Diskusikan Pencegahan Stroke di Kalimantan Timur


Diskusi Panel “3D Brain Movie dan Pencegahan Stroke di Kalimantan Timur”

Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) menggelar diskusi panel yang disajikan melalui pemutaran film “3D Brain Movie dan Pencegahan Stroke di Kalimantan Timur” pada Rabu, 19 Juli 2017 di Studio XXI Cinema Samarinda Central Plaza, Samarinda.

Turut hadir dalam acara ini beberapa pejabat di lingkungan Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda, diantara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr.Rini Retno bersama Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda drg. Nina Endang Rahayu. Sedangkan tokoh masyarakat yang hadir salah satunya adalah H Muhammad Jos Soetomo, pengusaha asal Samarinda.

Diskusi ini menghadirkan 4 panelis utama yakni Eka J. Wahjoepramono, Abdul Hadid Bajamal, Endro Basuki dan Arie Ibrahim. Panelis pertama, Eka J. Wahjoepramono adalah seorang dokter dan guru besar dengan spesialisasi bidang bedah syaraf (neurosurgeon). Ia merupakan dokter pertama yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia dan namanya juga tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien. Ia juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan ini juga berhasil mendapat gelar guru besar dari Fakultas Ilmu Hukum dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan.

Uniknya, presentasi dari Eka J. Wahjoepramono adalah berupa video 3D yang ditayangkan di layar super besar Studio XXI, ini membuat partisipan yang hadir sangat tertarik dan mengikuti materi hingga akhir. Ditanya tentang bentuk presentasi yang berbeda ini, Eka menjelaskan bahwa ini hanyalah untuk membuat peserta yang hadir tertarik dan mengikuti hingga akhir dan paham apa yang ia sampaikan.

Sementara itu panelis kedua, Prof. Dr. dr. Abd. Hafid Bajamal, Sp.BS (K) adalah dokter spesialis bedah syaraf dari Surabaya, merupakan salah satu dokter terbaik di bidangnya. Lelaki kelahiran Donggala 8 April 1949 ini adalah Profesor bedah syaraf di Fakultas Kedokteran di Universitas Airlangga, dan di RSU Dr. Soetomo, Surabaya. Ia membawakan materi bertema “Preventing My Loves Ones from being a Victim of a Stroke” mengenai penyebaran, penyebab dan akibat Stroke bagi kehidupan manusia.

Sementara itu panelis ketiga, dr Arie Ibrahim, SpBS adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dan juga Dokter di RSUD Abdul Wahab Syahranie, Samarinda, ia juga adalah dokter dengan spesialisasi bedah syaraf.  Arie membawakan materi “Kalimantan Timur Siaga Stroke”. Menurutnya Stroke di Kalimantan Timur saat ini ibarat bom waktu yang setiap saat dapat meledak, apabila sumbunya tidak seger diputus. Materi yang ia bawakan ialah tentang fakta-fakta pemicu stroke yang mendasari keprihatinan ia kepada frekuensi kasus stroke di Kalimantan Timur.

Sementara itu panelis keempat, Dr.Endro Basuki,Sp.BS adalah dokter spesialis bedah syaraf RSU Panti Rapih Yogyakarta dan RS Bethesda, Klinik Penyakit Dalam Yogyakarta. Ia hadir sebagai nara sumber pada diskusi panel akhir.

Kegiatan ini adalah bagian dari pelaksanaan The 17th ASEAN Congress of Neurological Surgery and The 7Th National Congress of Indonesian Society of Neurological Surgeons in conjunction with The 1th International Fujita Bantane Interim Meeting of Neurosurgery, pada 19 hingga 22 Juli 2017 di Grand Senyiur Hotel Balikpapan, Kalimantan Timur. (hms/arc)