Agar Enak Dibaca, Karya Ilmiah Harus Punya Style


“Siapapun bisa menulis esai. Modalnya cuma tiga yakni, membaca, membaca, menulis,” katanya saat menjadi pemateri pada Kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Populer, di Ruang Serbaguna, Rektorat Universitas Mulawarman (Unmul), Sabtu, (05/04).

Pelatihan sehari yang terselenggara berkat kerjasama Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah (Puslitbangwil) Unmul dan Indonesian Scholars Journal (ISJ) Unmul tersebut. Puluhan mahasiswa sebagai peserta diberikan pemaparan berbagai teknik penulisan esai dan berbagai contoh tulisan–tulisan populer dari pengalaman pemateri.

“Genre baru dalam esai, disebut creative non-fiction, yang diadopsi dari teknik penulisan fiksi (creative fiction). Tujuannya  menjauhkan tulisan dari kesan kaku dan serius, agar lebh renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur jika perlu, tanpa kehilangan kedalaman atau tanpa menjadi tulisan murahan,” sebut pria berkacamata ini.

Menurutnya,  seperti berbagai tulisan esai sangat ditentukan oleh kepekaan penulis, pemilihan angle, gaya penulisan, dan kedalaman (kekayaan bahan) memahami persoalan. Ia juga mengatakan, pemilihan tema tulisan harus diteruskan dengan langkah-langkah seperti, menentukan angel, susun tesis sebagai kalimat pernyataan yang memuat gagasan utama esai. Mengumpulkan bahan, membuat outline, dan menulis.

“Sedangkan untuk penulisan lead, banyak variasinya, bisa dengan teknik kutipan, definisi, narasi, dan sebagainya. Apa pun tekniknya, gunakan kalimat-kalimat pendek, berisi, dan memikat. Sebaiknya juga mencerminkan relevansi isi sekaligus keterkaitan dengan judul,” ucapnya.

Di akhir paparan pelatihan, wartawan senior Triibun Kaltim itu menyebutkan, kunci dari kesemuanya adalah penulis harus memahami persoalan, sediakan bahan yang cukup, kemudian ceritakan kembali secara sederhana. (hms/frn)